Sudah menjadi ritual tahunan, setiap Lebaran saya selalu pulang ke Blitar. Meskipun kedua mertua saya telah tiada [3 tahun lalu], saya dan keluarga [khususnya anak-anak] selalu kangen dengan Blitar. Suasana kotanya yang tenang & damai, makanannya dan juga keramahannya selalu membuat kami selalu kembali.
Wednesday, November 7, 2007
Mau mengajar kok malah diajar
Monday, November 5, 2007
Kenikmatan atau pelanggaran?
Finally, film The Secret [yang baru sekali saya menontonnya di kelompok Mastermind Jakarta Timur TNM-E20] saat ini bisa kita jumpai di gerai-gerai DVD yang ada di Mall ataupun Plaza yang ada di Jakarta. Saya melihatnya ada di tumpukan di salah satu gerai DVD di ITC Ambassador. Bimbang saya dibuatnya. Salahkah saya bila membeli DVD bajakan tersebut? Kan asyiik bisa muter DVD The Secret kapanpun kita mau, nggak perlu nunggu temen-temen TDA menggelar nonton bareng. Namun nurani saya mengatakan ‘jangan’. Dan akhirnya tidak jadi membelinya.
Ngomong-ngomong tentang maraknya DVD bajakan yang begitu bebas dijual di negeri kita ini, saya mencoba untuk melihatnya dari dua kacamata yang berbeda [yang pro bajakan, dan yang anti pembajakan].
Bagi yang pro bajakan jelas maraknya DVD bajakan ini dilihat sebagai berkah yang luar biasa. Hidup menjadi terasa nikmat dan serba mudah. Maklum DVD yang original kan harganya nggak masukakal mahalnya. Bayangkan dulu kalau mau nonton film-film box office yang telah tayang di luar negeri, kita harus menunggu satu hingga dua bulan baru diputar di Jakarta [basi kan?]. Itupun kalau si pemegang monopoli peredaran film di Indonesia [grup 21] berkenan mengimpornya. Dan yang terjadi seringkali film-film bagus justru nggak masuk di Indonesia. Sekarang film apapun yang ada di luar negeri bisa kita dapatkan hanya nunggu paling lama 1 minggu, sudah tersedia DVD nya, bagus pula kualitasnya. Mau koleksi film-film bagus pun nggak perlu keluar duit banyak. Film-film kesayangan bisa diputar kapan aja tinggal ngikutin mood kita aja. Wawasan dan pengetahuan pun cepat berkembang mengikuti apa yang ada di luar negeri. Pokoknya setelah internet, film-film asing ini lah yang sering meng up-date gaya hidup kita.
Mereka yang anti pembajakan serempak akan berteriak bahwa membeli DVD bajakan berarti tidak menghargai kerja keras para pekerja film. Padahal kan sebagai creator film [sutradara, kameraman, pencipta musiknya, artisnya, dan crew lainnya] mereka akan mendapatkan kepuasan tak terhingga justru kalau film hasil kerja keras mereka ditonton oleh banyak orang, dikagumi, dibahas, diomongin para penggemarnya. Nah lho. Logikanya para creator & pekerja film nggak perlu keberatan bila filmnya dibajak. Kan mereka sudah dibayar saat mereka berkutat memproduksi film tersebut. Kan bukan system royalty [seperti industri musik], jadi setiap kali DVD terjual atau film ditonton di bioskop mereka juga nggak bakal dapetin fulus lagi. Kalau toh ada yang paling dirugikan adalah pihak produsernya, yang telah mengeluarkan jutaan dolar untuk biaya produksi.
Sebenarnya kalau mau ditelisik lagi, masih banyak hal yang dapat dijadikan pembenaran bagi kelompok yang pro pembajakan. Namun kalau tulisan ini saya lanjutkan, bisa-bisa saya malah dicekik sama mereka yang anti pembajakan. Jadi pada akhirnya pilihan berpulang ke diri kita masing-masing. Yang jelas, yang namanya memiliki, menyimpan, membeli, menjual, menggandakan DVD yang nggak original dikategorikan sebagai pelanggaran hukum. Tabik aah!
Ngomong-ngomong tentang maraknya DVD bajakan yang begitu bebas dijual di negeri kita ini, saya mencoba untuk melihatnya dari dua kacamata yang berbeda [yang pro bajakan, dan yang anti pembajakan].
Bagi yang pro bajakan jelas maraknya DVD bajakan ini dilihat sebagai berkah yang luar biasa. Hidup menjadi terasa nikmat dan serba mudah. Maklum DVD yang original kan harganya nggak masukakal mahalnya. Bayangkan dulu kalau mau nonton film-film box office yang telah tayang di luar negeri, kita harus menunggu satu hingga dua bulan baru diputar di Jakarta [basi kan?]. Itupun kalau si pemegang monopoli peredaran film di Indonesia [grup 21] berkenan mengimpornya. Dan yang terjadi seringkali film-film bagus justru nggak masuk di Indonesia. Sekarang film apapun yang ada di luar negeri bisa kita dapatkan hanya nunggu paling lama 1 minggu, sudah tersedia DVD nya, bagus pula kualitasnya. Mau koleksi film-film bagus pun nggak perlu keluar duit banyak. Film-film kesayangan bisa diputar kapan aja tinggal ngikutin mood kita aja. Wawasan dan pengetahuan pun cepat berkembang mengikuti apa yang ada di luar negeri. Pokoknya setelah internet, film-film asing ini lah yang sering meng up-date gaya hidup kita.
Mereka yang anti pembajakan serempak akan berteriak bahwa membeli DVD bajakan berarti tidak menghargai kerja keras para pekerja film. Padahal kan sebagai creator film [sutradara, kameraman, pencipta musiknya, artisnya, dan crew lainnya] mereka akan mendapatkan kepuasan tak terhingga justru kalau film hasil kerja keras mereka ditonton oleh banyak orang, dikagumi, dibahas, diomongin para penggemarnya. Nah lho. Logikanya para creator & pekerja film nggak perlu keberatan bila filmnya dibajak. Kan mereka sudah dibayar saat mereka berkutat memproduksi film tersebut. Kan bukan system royalty [seperti industri musik], jadi setiap kali DVD terjual atau film ditonton di bioskop mereka juga nggak bakal dapetin fulus lagi. Kalau toh ada yang paling dirugikan adalah pihak produsernya, yang telah mengeluarkan jutaan dolar untuk biaya produksi.
Sebenarnya kalau mau ditelisik lagi, masih banyak hal yang dapat dijadikan pembenaran bagi kelompok yang pro pembajakan. Namun kalau tulisan ini saya lanjutkan, bisa-bisa saya malah dicekik sama mereka yang anti pembajakan. Jadi pada akhirnya pilihan berpulang ke diri kita masing-masing. Yang jelas, yang namanya memiliki, menyimpan, membeli, menjual, menggandakan DVD yang nggak original dikategorikan sebagai pelanggaran hukum. Tabik aah!
Sunday, November 4, 2007
Biasakanlah berpikir & bertindak keluar dari pakem
Pakem dalam dunia wayang kulit adalah alur cerita yang harus diikuti. Seorang dalang wayang kulit saat membawakan cerita tertentu biasanya ya harus mengikuti alur cerita yang telah ada. Ceritanya pun jadi mudah ditebak bagaimana ending-nya [yang sering nonton sudah pada tahu ceritanya]. Kalau ki dalang mencoba keluar dari pakem cerita yang ada, penonton pun akan protes keras. Kalau si dalang mencoba & berani membawakan cerita yang di luar pakem [atau keluar dari rel] ia pun akan mendapatkan julukan ‘dalang edan’.
Begitu pula dalam dunia kehidupan sebenarnya, secara tidak kita sadari, sebagian besar dari hidup yang sudah kita jalani selalu mengikuti pola-pola atau alur-alur tertentu yang sudah selazimnya diikuti. Maka hasilnya adalah sebuah jebakan kesamaan yang tidak menghasilkan terobosan apapun. Bila kita bertindak yang tidak seirama dengan hal-hal yang dianggap wajar oleh masyarakat sekitar kita, pasti julukan ‘edan’, ‘gendeng’, ‘gila’ atau sejenisnya yang akan kita terima.
Padahal seharusnya kitalah yang wajib menjadi dalang bagi diri kita sendiri dan juga menciptakan pakemnya. Sadar nggak, dulu orang tua kita selalu menasehati untuk sekolah yang rajn dan pintar, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, Universitas. Begitu lulus lalu mencari pekerjaan yang baik, berkarir dst. Semua ini kan juga mengikuti pola yang telah lazim berlaku di dalam dunia kehidupan saat itu. Jarang sekali ada orang tua [khususnya priyayi Jawa] yang menasehati anaknya untuk keluar dari pola ini [misal : nggak usah sekolah tapi langsung belajar jadi pengusaha].
Dalam dunia nyata saat ini, yang kian hari kian cepat dan dahsyat perubahannya, nampaknya harus mulai dipikirkan bagaimana agar kita tidak terjebak dengan pola, alur, atau rel kehidupan yang telah biasa itu. Kita harus berani untuk berpikir dan bertindak yang keluar dari pakem yang ada. Lihat saja, yang sering terjadi di masa kini, sekolah dengan baik, lulus universitas dengan nilai yang baik belum tentu menjamin kesuksesan di masa mendatang? Yang sering terjadi justru kegagalan ujian, angka yang jelek, atau mereka yang drop out dan kepepet mungkin akan melahirkan kehidupan luar biasa nantinya di masa mendatang [karena banyak orang yang belajar dari kegagalannya akhirnya justru meraih sukses]. Angka rapor yang baik tidak menjamin kesuksesan ataupun kehidupan yang menarik, tapi daya imaginasi dan kreativitas kita lah yang mampu membentuk itu.
Bagi yang masih TDB seperti saya ini, harus mulai berpikir di luar pakem, kesamaan ataupun alur yang telah terpola [tinggalkan pikiran bahwa kita akan bekerja dalam waktu yang lama, kalau bisa berkarir terus hingga top level dan seterusnya hingga masa pension tiba]. Sebaliknya harus kita ciptakan perasaan bahwa kita nggak mungkin untuk bekerja selamanya. Jaman ini cepat berubah, dan tidak ada lagi kata kelanggengan dunia kerja. Maka sebaiknyalah kita siap dipecat. Atau situasikan bahwa kondisi hidup kita saat ini sedang kepepet, kalau nggak punya usaha bakalan sengsara, atau pikirin bahwa kitalah yang harus menyiapkan dana pension untuk diri kita sendiri, sehingga akhirnya kita akan mencoba untuk mencari peluang usaha sendiri atau menciptakan pekerjaan sendiri.
Dan bagi mereka yang sudah yakin mau pindah kuadran menjadi pengusaha, mesti memikirkan usaha apa yang unik, lain daripada yang lain, tapi dahsyat, atau yang keluar dari ‘kerumunan’. Jangan seperti yang pernah saya alami [maklum, yang penting kan take action dulu] tatkala mencoba buka toko, saya memilih jalan yang nampaknya mudah dan terjamin dengan mengikuti yang pernah dilakukan orang lain dan sukses. Orang lain sukses membuka toko seluler saya ikutan, ada peluang dari pak H. Allay usaha sepatu, saya & rekan-rekan TDA ikutan. Barusan saya menyadari bahwa toko seluler & toko sepatu yang pernah saya set-up ternyata memang tidak ada yang unik spesifik dan keluar dari pakem [biasa-biasa saja, nggak ada istimewanya]. Makanya trendnya ya terlibas oleh keganasan dunia usaha yang juga semakin kompetitif.
Logikanya, semua orang ingin kehidupan yang sukses dan menarik. Tetapi seringkali pada saat kita dihadapkan pada pilihan, kita memilih jalan yang nampaknya mudah dan terjamin. Kita ingin meniru H. Allay, H. John dengan Tip Topnya, Ronny Yuzirman dengan Manettnya, Bill Gates, dll., tetapi kita tidak mau mengambil resiko dalam hidup ini untuk berani mengambil langkah gila yang keluar dari pakem. Kita sadar bahwa alur atau rel baru selalu memiliki resiko, karena jalan tersebut belum pernah ditempuh orang. Padahal, bisa jadi jalan inilah yang ternyata terbaik buat kita tempuh dan memberikan sukses sebagai pengusaha. Berusahalah selalu untuk be yourself. Yang boleh kita pelajari dari orang sukses adalah cara mereka menemukan peluang atau ide usaha, semangatnya, dan cara mereka mewujudkan impian & kerja kerasnya. Tapi jangan kepingin menjadi seperti mereka.
Saatnya kita semua membiasakan pikiran kita lepas berkelana ke mana saja dan keluar dari kebiasaan dan kesamaan yang selama ini membuat diri kita menjadi ‘biasa’ seperti orang kebanyakan. Kalau perlu berpikir & bertindaklah yang extreme sekalian menerobos pakem yang ada. Dari pengalaman saya belajar jadi pengusaha, kalau kita nggak punya ide usaha yang keluar dari pakem, hasilnya akan so so aja. Apalagi masih disambi kerja sebagai TDB pula, nggak akan maksimal hasilnya. Saya telah membuktikannya. Semoga menambah wawasan Anda semua.
Begitu pula dalam dunia kehidupan sebenarnya, secara tidak kita sadari, sebagian besar dari hidup yang sudah kita jalani selalu mengikuti pola-pola atau alur-alur tertentu yang sudah selazimnya diikuti. Maka hasilnya adalah sebuah jebakan kesamaan yang tidak menghasilkan terobosan apapun. Bila kita bertindak yang tidak seirama dengan hal-hal yang dianggap wajar oleh masyarakat sekitar kita, pasti julukan ‘edan’, ‘gendeng’, ‘gila’ atau sejenisnya yang akan kita terima.
Padahal seharusnya kitalah yang wajib menjadi dalang bagi diri kita sendiri dan juga menciptakan pakemnya. Sadar nggak, dulu orang tua kita selalu menasehati untuk sekolah yang rajn dan pintar, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, Universitas. Begitu lulus lalu mencari pekerjaan yang baik, berkarir dst. Semua ini kan juga mengikuti pola yang telah lazim berlaku di dalam dunia kehidupan saat itu. Jarang sekali ada orang tua [khususnya priyayi Jawa] yang menasehati anaknya untuk keluar dari pola ini [misal : nggak usah sekolah tapi langsung belajar jadi pengusaha].
Dalam dunia nyata saat ini, yang kian hari kian cepat dan dahsyat perubahannya, nampaknya harus mulai dipikirkan bagaimana agar kita tidak terjebak dengan pola, alur, atau rel kehidupan yang telah biasa itu. Kita harus berani untuk berpikir dan bertindak yang keluar dari pakem yang ada. Lihat saja, yang sering terjadi di masa kini, sekolah dengan baik, lulus universitas dengan nilai yang baik belum tentu menjamin kesuksesan di masa mendatang? Yang sering terjadi justru kegagalan ujian, angka yang jelek, atau mereka yang drop out dan kepepet mungkin akan melahirkan kehidupan luar biasa nantinya di masa mendatang [karena banyak orang yang belajar dari kegagalannya akhirnya justru meraih sukses]. Angka rapor yang baik tidak menjamin kesuksesan ataupun kehidupan yang menarik, tapi daya imaginasi dan kreativitas kita lah yang mampu membentuk itu.
Bagi yang masih TDB seperti saya ini, harus mulai berpikir di luar pakem, kesamaan ataupun alur yang telah terpola [tinggalkan pikiran bahwa kita akan bekerja dalam waktu yang lama, kalau bisa berkarir terus hingga top level dan seterusnya hingga masa pension tiba]. Sebaliknya harus kita ciptakan perasaan bahwa kita nggak mungkin untuk bekerja selamanya. Jaman ini cepat berubah, dan tidak ada lagi kata kelanggengan dunia kerja. Maka sebaiknyalah kita siap dipecat. Atau situasikan bahwa kondisi hidup kita saat ini sedang kepepet, kalau nggak punya usaha bakalan sengsara, atau pikirin bahwa kitalah yang harus menyiapkan dana pension untuk diri kita sendiri, sehingga akhirnya kita akan mencoba untuk mencari peluang usaha sendiri atau menciptakan pekerjaan sendiri.
Dan bagi mereka yang sudah yakin mau pindah kuadran menjadi pengusaha, mesti memikirkan usaha apa yang unik, lain daripada yang lain, tapi dahsyat, atau yang keluar dari ‘kerumunan’. Jangan seperti yang pernah saya alami [maklum, yang penting kan take action dulu] tatkala mencoba buka toko, saya memilih jalan yang nampaknya mudah dan terjamin dengan mengikuti yang pernah dilakukan orang lain dan sukses. Orang lain sukses membuka toko seluler saya ikutan, ada peluang dari pak H. Allay usaha sepatu, saya & rekan-rekan TDA ikutan. Barusan saya menyadari bahwa toko seluler & toko sepatu yang pernah saya set-up ternyata memang tidak ada yang unik spesifik dan keluar dari pakem [biasa-biasa saja, nggak ada istimewanya]. Makanya trendnya ya terlibas oleh keganasan dunia usaha yang juga semakin kompetitif.
Logikanya, semua orang ingin kehidupan yang sukses dan menarik. Tetapi seringkali pada saat kita dihadapkan pada pilihan, kita memilih jalan yang nampaknya mudah dan terjamin. Kita ingin meniru H. Allay, H. John dengan Tip Topnya, Ronny Yuzirman dengan Manettnya, Bill Gates, dll., tetapi kita tidak mau mengambil resiko dalam hidup ini untuk berani mengambil langkah gila yang keluar dari pakem. Kita sadar bahwa alur atau rel baru selalu memiliki resiko, karena jalan tersebut belum pernah ditempuh orang. Padahal, bisa jadi jalan inilah yang ternyata terbaik buat kita tempuh dan memberikan sukses sebagai pengusaha. Berusahalah selalu untuk be yourself. Yang boleh kita pelajari dari orang sukses adalah cara mereka menemukan peluang atau ide usaha, semangatnya, dan cara mereka mewujudkan impian & kerja kerasnya. Tapi jangan kepingin menjadi seperti mereka.
Saatnya kita semua membiasakan pikiran kita lepas berkelana ke mana saja dan keluar dari kebiasaan dan kesamaan yang selama ini membuat diri kita menjadi ‘biasa’ seperti orang kebanyakan. Kalau perlu berpikir & bertindaklah yang extreme sekalian menerobos pakem yang ada. Dari pengalaman saya belajar jadi pengusaha, kalau kita nggak punya ide usaha yang keluar dari pakem, hasilnya akan so so aja. Apalagi masih disambi kerja sebagai TDB pula, nggak akan maksimal hasilnya. Saya telah membuktikannya. Semoga menambah wawasan Anda semua.
Tuesday, October 30, 2007
Malas
Malas adalah salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang singkat tapi artinya jelas dan tegas. Semua orang pasti akrab dengan kata yang satu ini, karena pasti pernah mengalaminya. Bahkan kalau tak salah, kata malas ini berkonotasi negative dari sejak diciptakan, makanya oleh para orang tua yang bijak malas diibaratkan sebagai ‘penyakit’ yang harus dihindari sejak kita kecil, kalau perlu dienyahkan selamanya dari sifat & kepribadian manusia.
Malas, inilah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan saya sebulan terakhir ini. Saya tidak mau menyalahkan penyebabnya, tapi harus jujur bahwa julukan sebagai si ‘pemalas’ lah yang cocok buat saya.
Malas untuk beraktivitas dan juga bekerja. Gawat padahal saya masih TDB, yang tentunya mash sangat membutuhkan pekerjaan saya saat ini. Malas gara-gara puasa? Ah yang bener aja. Bukankah selama berpuasa justru kita harus tetap beraktivitas. So jangan nyalahin puasa sebagai kambing hitam atau untuk menutupi sifat malas ini. Sekali malas ya malas aja. Khabar baiknya, untung saya tidak malas untuk menjalankan kewajiban puasa ramadhan.
Malas buka email, malas ngeblog? Ya, itulah yang terjadi dalam kurun sebulan terakhir ini. Padahal aktivitas ngi-mail & ngeblog jelas-jelas banyak gunanya sebagai ajang komunikasi, sharing pengalaman, wadah berkomunitas, dsb. tapi gara-gara malas ya nggak kesentuh juga. Namanya juga lagi malas euyy…
Malas ini seringkali saya sadari berdampak negatif buat diri saya pribadi. Apalagi kalau sudah mendarah daging, sampai-sampai kita tidak menyadari keberadaannya, karena seringkali kita kemas dengan kata lain yang lebih lembut seperti ‘santai aja’ atau ‘nyantai dulu ah’, ‘slow aja’, ‘kalem aja’, ‘ah entar juga masih ada waktu’, ‘gampang lah nanti aja’, dsb. Kalau saya renungkan lebih jauh, gara-gara malas kuliah saya pernah molor dan tertinggal. Malas ‘ngurusin’ juga pernah bikin bisnis saya waktu mahasiswa [yang berangkatnya dari semangat cari tambahan uang saku] saya tinggalkan. Padahal kalau saya terusin mungkin sekarang udah jadi gede kali ye? [maklum dulu kan kepinginnya bukan jadi pengusaha tapi jadi pegawai]
Malas rutin ngontrol toko seluler juga pernah berujung omset menurun dan akhirnya ‘dikadalin’ karyawan dan akhirnya malah harus bubar. Malas ngontrol pengelola bisnis rental mobil juga berakibat hilangnya setoran 9 bulan, akhirnya berujung saya pindahkan ke pengelola yang lain. Yang terjadi baru-baru ini, gara-gara terlambat karena malas nyiapin proposal & konsep advertising & communication, bulan kemarin saya kehilangan peluang untuk ‘ndapetin’ kerjaan dari salah satu calon gubernur Jawa Timur. Nyesel. Anehnya, saya kok nggak pernah kapok dan jera dengan sifat malas saya ya? Karena saat malas itu muncul kok sempat saya biarkan berlama-lama hadir di dalam diri saya… hehehe…
Malas memang sudah menjadi sifat pribadi yang unik. Jadi kalau kita berhasil mengatasi kemalasan kita, berarti kita berhasil mengalahkan diri kita sendiri. Yang ini penting banget!
Malas… akhirnya sekali lagi kusadari sepenuhnya bahwa banyak dampak negatifnya daripada positifnya. Makanya, kulawan dia dengan sekuat tenaga. Kalau toh akhirnya tulisan ini selesai dan saya posting di blog, ini sangat besar artinya bagi diri saya pribadi. Karena berarti saya berhasil berjuang sekuat tenaga untuk mengalahkan diri saya pribadi khususnya sifat malas yang memang menjadi penyakit kambuhan sejak dulu.
Malas? Kok saya jadi malas ya … ngomongin malas.
Malas, inilah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan saya sebulan terakhir ini. Saya tidak mau menyalahkan penyebabnya, tapi harus jujur bahwa julukan sebagai si ‘pemalas’ lah yang cocok buat saya.
Malas untuk beraktivitas dan juga bekerja. Gawat padahal saya masih TDB, yang tentunya mash sangat membutuhkan pekerjaan saya saat ini. Malas gara-gara puasa? Ah yang bener aja. Bukankah selama berpuasa justru kita harus tetap beraktivitas. So jangan nyalahin puasa sebagai kambing hitam atau untuk menutupi sifat malas ini. Sekali malas ya malas aja. Khabar baiknya, untung saya tidak malas untuk menjalankan kewajiban puasa ramadhan.
Malas buka email, malas ngeblog? Ya, itulah yang terjadi dalam kurun sebulan terakhir ini. Padahal aktivitas ngi-mail & ngeblog jelas-jelas banyak gunanya sebagai ajang komunikasi, sharing pengalaman, wadah berkomunitas, dsb. tapi gara-gara malas ya nggak kesentuh juga. Namanya juga lagi malas euyy…
Malas ini seringkali saya sadari berdampak negatif buat diri saya pribadi. Apalagi kalau sudah mendarah daging, sampai-sampai kita tidak menyadari keberadaannya, karena seringkali kita kemas dengan kata lain yang lebih lembut seperti ‘santai aja’ atau ‘nyantai dulu ah’, ‘slow aja’, ‘kalem aja’, ‘ah entar juga masih ada waktu’, ‘gampang lah nanti aja’, dsb. Kalau saya renungkan lebih jauh, gara-gara malas kuliah saya pernah molor dan tertinggal. Malas ‘ngurusin’ juga pernah bikin bisnis saya waktu mahasiswa [yang berangkatnya dari semangat cari tambahan uang saku] saya tinggalkan. Padahal kalau saya terusin mungkin sekarang udah jadi gede kali ye? [maklum dulu kan kepinginnya bukan jadi pengusaha tapi jadi pegawai]
Malas rutin ngontrol toko seluler juga pernah berujung omset menurun dan akhirnya ‘dikadalin’ karyawan dan akhirnya malah harus bubar. Malas ngontrol pengelola bisnis rental mobil juga berakibat hilangnya setoran 9 bulan, akhirnya berujung saya pindahkan ke pengelola yang lain. Yang terjadi baru-baru ini, gara-gara terlambat karena malas nyiapin proposal & konsep advertising & communication, bulan kemarin saya kehilangan peluang untuk ‘ndapetin’ kerjaan dari salah satu calon gubernur Jawa Timur. Nyesel. Anehnya, saya kok nggak pernah kapok dan jera dengan sifat malas saya ya? Karena saat malas itu muncul kok sempat saya biarkan berlama-lama hadir di dalam diri saya… hehehe…
Malas memang sudah menjadi sifat pribadi yang unik. Jadi kalau kita berhasil mengatasi kemalasan kita, berarti kita berhasil mengalahkan diri kita sendiri. Yang ini penting banget!
Malas… akhirnya sekali lagi kusadari sepenuhnya bahwa banyak dampak negatifnya daripada positifnya. Makanya, kulawan dia dengan sekuat tenaga. Kalau toh akhirnya tulisan ini selesai dan saya posting di blog, ini sangat besar artinya bagi diri saya pribadi. Karena berarti saya berhasil berjuang sekuat tenaga untuk mengalahkan diri saya pribadi khususnya sifat malas yang memang menjadi penyakit kambuhan sejak dulu.
Malas? Kok saya jadi malas ya … ngomongin malas.
Monday, October 29, 2007
Njelimetnya kata 'maaf'
Saya yakin, kata yang paling banyak digunakan pada ‘Lebaran season’ adalah kata ‘maaf’. Bayangkan, setelah orang tua dan keluarga terdekat kita … setiap kali ketemu dengan temen, saudara, tetangga, kenalan, bahkan orang yang baru kita kenal pun pasti kata ‘maaf’ ini yang bakal terucap. Belum lagi yang diucap lewat telepon, dikirim via SMS, dan e-mail. Terpikir nggak berapa keuntungan yang diraih oleh para operator seluler dengan kata ‘maaf’ ini? Dahsyat kan!
Kalau direnungkan lebih jauh, sebenarnya masih bermakna nggak sih kata ‘maaf’ ini? Karena begitu mudahnya kita mengumbar kata ‘maaf’ ini. Seolah tersirat, begitu gampang pula kita berbuat salah kepada orang lain. Apa nggak kesannya malah klise belaka? Atau memang sekadar ritual saja. Karena di bulan ini memang semua orang aktif mengobral kata ‘maaf’. Lha berarti kita cuma ikut-ikutan aja dong. Nah lho, kalau cuma ikut-ikutan kata ‘maaf’ yang terucap nggak dari hati dong. Kalau ‘nggak dari hati berarti permohonan ‘maaf’nya nggak tulus jadinya… wuah gawat!
Padahal untuk memohon maaf, kita kan harus sadar sepenuhnya bahwa kita pernah berbuat salah atau pernah berbuat yang menyakiti orang. Karena kalau kita minta maaf kepada seseorang berarti ada tersirat makna bahwa kita sungguh-sungguh menyesali apa yang telah kita perbuat, dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi. Lalu benarkah kita telah berbuat salah atau pernah menyakiti ratusan orang atau bahkan ribuan orang yang telah kita kirimi kata ‘maaf’? Pusiiing lah kalau dipikirin sampai njelimet begini.
Begitu pula kepada teman-teman yang sering berkunjung ke blog ini, haruskah hamba memohon maaf kepada Anda semua? Salah apa ya daku? Paling-paling kalau saya menyadari kesalahan saya, ya sebatas saya sudah lama tidak meng-update blog ini. Tapi kembali lagi, apakah hal ini bisa dianggap kesalahan saya kepada para pembaca blog ini? Wong ini blog saya kok… jadi ya suka-suka gue dong… mau saya update atau nggak? Betul nggak?
Kalau terus saya pikirin, saya jadi tambah bingung… bagaimana saya harus minta maaf, kan saya nggak tahu salah saya? Tapi daripada terus-terusan mikir pakai akal sehat malah ngaco jadinya terus malah jadi capek sendiri… dan daripada saya dibebani rasa bersalah yang nggak ketahuan ujung pangkalnya, dan mumpung masih dalam suasana Lebaran, saya akhiri pikiran akal sehat saya. Lebih baik saya menjalankan ajaran agama saya untuk selalu membangun tali silaturrahim dengan siapa saja dan saling memaafkan di bulan baik ini.
Untuk itu, dengan segala ketulusan hati, dalam kesempatan pertama setelah sekian lama saya nggak ‘ngeblog’ saya mengucapkan : “Selamat Idul Fitri, Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir & Bathin”.
Kalau direnungkan lebih jauh, sebenarnya masih bermakna nggak sih kata ‘maaf’ ini? Karena begitu mudahnya kita mengumbar kata ‘maaf’ ini. Seolah tersirat, begitu gampang pula kita berbuat salah kepada orang lain. Apa nggak kesannya malah klise belaka? Atau memang sekadar ritual saja. Karena di bulan ini memang semua orang aktif mengobral kata ‘maaf’. Lha berarti kita cuma ikut-ikutan aja dong. Nah lho, kalau cuma ikut-ikutan kata ‘maaf’ yang terucap nggak dari hati dong. Kalau ‘nggak dari hati berarti permohonan ‘maaf’nya nggak tulus jadinya… wuah gawat!
Padahal untuk memohon maaf, kita kan harus sadar sepenuhnya bahwa kita pernah berbuat salah atau pernah berbuat yang menyakiti orang. Karena kalau kita minta maaf kepada seseorang berarti ada tersirat makna bahwa kita sungguh-sungguh menyesali apa yang telah kita perbuat, dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi. Lalu benarkah kita telah berbuat salah atau pernah menyakiti ratusan orang atau bahkan ribuan orang yang telah kita kirimi kata ‘maaf’? Pusiiing lah kalau dipikirin sampai njelimet begini.
Begitu pula kepada teman-teman yang sering berkunjung ke blog ini, haruskah hamba memohon maaf kepada Anda semua? Salah apa ya daku? Paling-paling kalau saya menyadari kesalahan saya, ya sebatas saya sudah lama tidak meng-update blog ini. Tapi kembali lagi, apakah hal ini bisa dianggap kesalahan saya kepada para pembaca blog ini? Wong ini blog saya kok… jadi ya suka-suka gue dong… mau saya update atau nggak? Betul nggak?
Kalau terus saya pikirin, saya jadi tambah bingung… bagaimana saya harus minta maaf, kan saya nggak tahu salah saya? Tapi daripada terus-terusan mikir pakai akal sehat malah ngaco jadinya terus malah jadi capek sendiri… dan daripada saya dibebani rasa bersalah yang nggak ketahuan ujung pangkalnya, dan mumpung masih dalam suasana Lebaran, saya akhiri pikiran akal sehat saya. Lebih baik saya menjalankan ajaran agama saya untuk selalu membangun tali silaturrahim dengan siapa saja dan saling memaafkan di bulan baik ini.
Untuk itu, dengan segala ketulusan hati, dalam kesempatan pertama setelah sekian lama saya nggak ‘ngeblog’ saya mengucapkan : “Selamat Idul Fitri, Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir & Bathin”.
Subscribe to:
Posts (Atom)