Tuesday, February 26, 2008

Hobi anakku [mudah-mudahan] bisa jadi peluang usaha baru


Salahkah saya kalau menjanjikan sesuatu kepada anak? Dan salahkah anak jika akhirnya menagih apa yang pernah dijanjikan kepadanya? Bagi saya keduanya benar semua. Inilah cerita tentang janji orang tua yang harus ditepati. Awal bulan Maret 2007 lalu, anak lelaki saya [SMP] yang hobinya musik minta dibelikan satu set drum [ternyata nurun juga ya… saya dulu pas SMA juga asyik nge-band & vocal group-an sama temen-temen].

Berhubung kebiasaan di keluarga saya kalau mau mendapatkan sesuatu harus diimbangi dengan usaha dan kerja keras untuk meraih prestasi, maka saya janjikan kepadanya kalau kenaikan kelas nanti bisa dapetin ranking minimal 5 besar [di angkatannya nggak cuma di kelas], permintaannya akan saya turuti [niatnya sih biar memacu dia untuk lebih giat lagi belajar nggak cuma asyik main musik] . Kebetulan dia masuk di kelas unggulan dari SMP unggulan yang ada di Jakarta Timur.

Ternyata, saat kenaikan kelas bulan Juli 2007 kemarin, ia berhasil meraih prestasi seperti yang saya tuntut kepadanya. Mulailah ia menagih apa yang pernah dijanjikan kepadanya. Saya pun berusaha untuk mengulur waktu dengan alasan dana untuk itu belum siap. Akhirnya, sepakat untuk sementara waktu dia ikutan les drum di Purwacaraka, dan kalau ingin nge-drum sama temen-temennya ya cari studio musik untuk disewa, atau ke rumah teman yang punya alat komplet.

Seiring berjalannya waktu, putra saya sudah nggak menagih janji lagi. Eh, nggak tahunya akhir Desember 2007 lalu tibalah hari pembagian rapot Semesteran. Dan lagi-lagi dia berhasil mempertahankan prestasinya. Mulailah ia ingat untuk menagih janji lagi. Malah sekarang diberi catatan khusus bahwa bapak [saya] ternyata tidak bisa dipegang ‘omongannya’. Nah lho, KO saya dibuatnya.

Akhirnya, setelah berunding dengan ibunya, janji yang telah berhasil ‘molor’ 6 bulan saya tepati juga. Tapi sebelum saya belikan, saya menyuruhnya survey merk apa yang bagus dan berapa kisaran harganya, lengkap dengan rasionalnya kenapa harus membeli merk yang direkomendasi olehnya [padahal diam-diam saya juga melakukan survey]. Kemudian saya ajak berunding bahwa dana yang ada sekian rupiah, jadi sebaiknya merk yang mana yang akan dipilihnya. Begitulah, secara nggak sengaja saya melatihnya untuk berpikir secara baik dan benar sebelum mengambil keputusan penting.

Selesaikah persoalannya? Ternyata tidak. Karena kini muncul persoalan baru lagi. Istri saya mulai complain setiap kali dia asyik ‘gedebrak-gedebruk’ dengan drum kesayangannya itu bersama kakaknya yang bermain keyboard. Giliran ibunya sekarang menuntut saya untuk membuatkan studio kedap suara untuk kedua alat musik tsb. Kebayang sih untuk bikin studio di lantai dua. Tapi kok sayang amat ya, habis dananya lumayan banyak tapi nggak menghasilkan fulus. Cling, tiba-tiba saya jadi kepikir untuk bikin studio musik lalu disewain ke anak-anak ABG seperti anak-anak saya. Kan tinggal menambah Guitar listrik, Bass, dan perangkat audio-nya yang simple dulu aja. Jreng… siap untuk disewain.

Pertmbangan positive-nya : 1). Anak-anak nggak perlu pergi ke rumah temennya atau sewa studio kalau mau latihan band bareng group-nya. 2). Sebagai orang tua saya nggak perlu was-was lagi, karena gampang ‘ngontrol’nya. 3). Setidaknya bisa terhindar dari pengaruh ‘di luaran’ yang tidak kita inginkan. Maklum di Jakarta ini kan kalau punya anak ABG harus ‘dijagain’ dengan seksama.

Ide ini saya sharing bersama anak-anak. Sekalian saya juga kepingin mengajari anak-anak bagaimana men-set up sebuah usaha mulai dari awal. Memang perlu proses yang agak panjang, tapi setidaknya mereka akan mendapatkan pelajaran berharga yang tidak akan pernah diperolehnya di bangku sekolah. Tugas pertama, sambil beraktivitas sehari-hari, saya minta mereka survey ada berapa banyak studio musik yang ada di sekitar komplek tempat tinggal kami radius 3 km. Kemudian range berapa saja harga sewa studio yang mereka tahu, termasuk berapa jam rata-rata tingkat pemakaiannya.

Nantinya, anak-anak akan saya ‘kerjain’ lagi untuk survey lanjutannya dari proses studio musik ini. Inilah sedikit cerita tentang hobi musik anak saya yang mudah-mudahan kalau Allah SWT mengijinkan bisa menjadi sebuah peluang usaha baru. Maaf ya, kok saya jadi keterusan ‘curhat’. Malu ah…

No comments: