Saturday, December 1, 2007

Krismon berkepanjangan memunculkan VVIP customer?

Percaya nggak, situasi negeri kita tercinta yang belum juga bangkit dari krisis moneter-nya justru memunculkan VVIP [very very important persons] customers [ini istilah saya]. Yang saya maksud VVIP customers di sini adalah sekelompok konsumen yang bener-bener sangat istimewa baik taste-nya terhadap produk, lifestyle-nya, maupun daya belinya.

Kalau kita amati, fenomena ini sangat menarik, dan bagi yang dapat memanfaatkannya sebagai peluang jelas akan memberi keuntungan yang sangat menggiurkan. Lihat saja, saat ini begitu banyak produk-produk mewah bergengsi yang masuk ke Indonesia. Misal, mobil mewah merk apa saja banyak yang dibeli oleh kelompok VVIP customer ini. Sebut saja misalnya mobil Ferrari, Maserati, Jaguar yang limited edition yang banyak dikoleksi oleh orang-orang yang duitnya nggak ‘berseri’. Begitu juga dengan mobil perang Hummer [Humvey] yang dimodifikasi jadi kendaraan sipil eksklusif banyak berlalu-lalang di kemacetan ibu kota. Belum lagi sepeda motor gede [Harley Davidson, Honda, Ducati, Aprilia, dsb.].

Perumahan mewah dan apartemen [yang harganya milyaran] di manapun juga langsung habis terjual. Belum lagi property di California, di Eropa, di Singapura, dsb. yang juga banyak dibeli oleh pemilik duit ‘gede’ WNI ini. Ada juga hand-phone Vertu yang harganya ratusan juta. Begitu juga pakaian, aksesoris, perhiasan, dasi, jam tangan, parfum, dsb. Dan masih banyak lagi. Hebat ya mereka, kita menjadi sangat kecil sekali bila kita bandingkan apple to apple.

Waktu saya mengikuti training di Mark Plus –nya Hermawan Kertajaya, munculnya segmen yang very exclusive ini ditengarai karena mereka memang sangat mementingkan emotional benefit. Prestise dan citra eksklusif memang menjadi karakteristik penting bagi VVIP customers ini. Jadi eksklusifitas dan kelangkaan dari produk yang ditawarkan dilihat sebagai emotional benefit yang terpenting dalam membeli suatu produk. Semakin sedikit dan mahal brand yang ditawarkan semakin disukai dan dibeli. Dan biasanya mereka mempunyai komunitas tersendiri yang limited antarsesama mereka.

Nah, bagi produsen yang dapat memanfaatkan segmen VVIP customers ini dijamin bakal dapat ‘mengeruk’ margin yang tinggi. Dan selamat bagi Anda yang usahanya sudah mampu membidik ke target market yang seperti ini.

Mungkinkah kita menciptakan produk-produk yang berstandar internasional yang nantinya bisa go international? [Kayaknya sih, batik pekalongannya pak Abduh, busana muslimnya pak Roni, selimut pak Hadi Kuntoro, dan jamu Mahkota Dewa-nya bu Ning yang lagi pameran di Singapura bisa mengarah ke sini. Siapa lagi ya, yang lain?]

Jawabannya kembali kepada kita masing-masing. Kalau saya pribadi memang memimpikan kepingin punya brand yang dapat memenuhi emotional benefit para VVIP customers di atas. Bukankah tugas kita bermimpi sedahsyat yang kita bisa, dan berusaha & berkarya untuk mewujudkannya dengan berbagai cara, sekaligus ber LoA [law of attraction] dan berdoa.

Produknya apa? Saya sih mengalir saja karena yang namanya belajar menjadi pengusaha kan mengikuti proses dialektika tiada henti, siapa tahu di tengah ‘perjalanan’ nanti ada yang ‘nge-click’ dan dapat diarahkan untuk menjadi exclusive brand yang ternyata matching dengan emotional benefit kelompok VVIP customers di atas, ya, syukur Alhamdulillah! Kalau bermimpi saja nggak berani kan berarti nggak ada gunanya dong saya ikutan komunitas dahsyat TDA [tangan di atas]. Semoga. Amin.

Salam FUNtastic TDA!

No comments: